Halaman

Tuesday, March 19, 2019

Metodologi Setudi Islam; PERBEDAAN RASA AGAMA PADA USIA ANAK SAMPAI REMAJA


PERBEDAAN RASA AGAMA PADA USIA ANAK SAMPAI REMAJA


Mini Riset
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Metodologi Setudi Islam
Dosen Pengampu : Lina Kushidayati, SHI,MA


 









Disusun oleh:
M. Miftahul Ulum       (212454)

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) KUDUS
JURUSAN SYARI’AH / MBS
2015



A.    Pendahuluan

Manusia merupakan individu dengan gejala-gejala jiwa yang terdalam sebagai suatu keyakinan yang disebut agama. Berbicara mengenai agama tidak lepas dari pembicaraan tentang rasa agama yang memang merupakan sesuatu yang harus kita ketahui mengingat betapa pentingnya penanaman rasa agama pada tiap-tiap individu. Bahkan tidak hanya sekedar itu, di berbagai sisi kehidupan rasa agama akan sangat berpengruh terhadap sikap dan tingkah laku seseorang.
Hubungan manusia dengan sesuatu yang dianggap kodrati ( supernatural) memang diakui kebenarannya. Hubungan ini dipengaruhi dan mempengaruhi faktor kejiwaan. Proses dan hubungan ini menurut para ahli dapat dikaji secara empiris dengan menggunakan pendekatan psikologi. Misalnya saja,dalam kasus konversi agama, isi yang termuat dalam doa-doa maupun perilaku keberagaman dapat dilihat dari motivasi yang melatarbelakanginya.

Dalam pendidikan Islam rasa agama merupakan satu komponen dari tujuan pokok pendidikan islam yang nantinya harus ditanamkan pada masing-masing individu secara perlahan dengan tujuan agar dapat melekat pada diri individu tersebut. Untuk mengetahui sejauh mana tujuan dari penanaman rasa agama berhasil atau tidaknya hanya bisa dirasakan oleh masing-masing individu yang menerimanya. Berhasil atau tidaknya pendidikan islam dalam mencapai tujuannya akan dapat dilihat setelah dilakukannya refleksi diri terhadap seseorang, tujuan pendidikan agama dapat dikatakan berhasil jika rasa agama yang ditanamkan telah mengkristal pada diri individu yang menerima dan individu tersebut dapat menjalankan perintah-perintah agama sesuai kesadaran diri berdasarkan hati nurani tanpa disuruh oleh orang lain, jika tidak seperti itu maka belum bisa dikatakan berhasil.
Selanjutnya psikologi agama juga menyangkut masalah yang berhubungan dengan kehidupan batin manusia. Agama sebagai bentuk keyakinan, memang sulit diukur secara tepat dan rinci. Namun melalui sikap dan perilaku yang perlihatkan, keyakinan seseorang dapat diukur.
Sebagaimana yang diungkapkan oleh Prof. Dr. Zakiah Daradjat, psikologi agama meneliti dan menelaah kehidupan beragama seseorang dan mempelajari sebarapa besar pengaruh keyakinan agama itu dalam sikap dan tingkah laku serta keadaan hidup pada umumnya. Disamping itu, psikologi agama juga mempelajari pertumbuhan dan perkembang jiwa agama pada seseorang, serta factor-faktor yang mempengaruhi keyakinan tersebut.(Zakiah Daradjat, 1970: 11).[1]
Demikian pula perbedaan  rasa agama pada anak sampai remaja yang diperlihatkan manusia dalam sikap dan tingkah laku mereka. Fase perkembangan Religiositas pada usia anak mempunyai peran penting, baik bagi perkembangan anak itu sendiri maupun usia selanjutnya. Penanaman nilai-nilai keagamaan  yang menyangkut konsep ketuhanan, ibadah dan nilai moral yang berlangsung semenjak dini mampu membentuk religositas anak yang mengakar kuat dan berpengaruh sepanjang hidupnya.(Hurlock,1978: 26)[2]
Selanjutnya pada usia remaja nilai agama yang telah terinternalisasi tersebut terbentuk menjadi conscience (kata hati) yang akan menjadi dasr penilaian dan penyaringan terhadap nilai yang masuk pada dirinya.(Clark, 1958:91)[3]
miniriset singkat ini tentang Perbedaan Rasa Agama usia Anak sampai Remaja yang dialami oleh saya sendiri ( Moh Miftahul Ulum) sebagai subjek penelitian,

B.     Teori
Dalam miniriset ini membahas tentang perbedaan rasa agama anak sampai remaja.
Rasa agama  atau Religiusitas menurut W. H. Clark adalah The inner experience of the individual when he senses a Beyond, especially as evident by the effect of this experience on his behavior when he actively attempts to his harmonize his life with the beyond.(Clark, 1958: 22).[4]
Dan menurut Susilaningsih rasa agama adalah nilai-nilai yang telah mengkristal dalam diri manusia sebagai produk dari proses internalisasi nilai melalui proses yang dialami semenjak dini secara kontinu, konsisten dan berkesinambungan.[5]
Ada pendapat bahwa sejak lahir anak membawa fitrah keagamaan dan terus berkembang. Rasa agama itu baru berfungsi setelah melalui proses bimbingan dan latihan setelah berada tahap kematangan. Tetapi aktivitas pendidikan dilakukan sejak bayi bahkan sejak di dalam kandungan sampai akhir hayat dan dilakukan sesuai dengan kadar kemampuan atau nalar seseorang.
Dengan demikian pendidikan agama kepada anak berbeda dengan pendidikan terhadap orang dewasa. Didiklah anak-anakmu dengan cara belajar sambil bermain atau bergurau pada tujuh tahun pertama usia mereka dan pada tujuh tahun kedua didiklaah mereka dengan disiplin dan moral, kemudian pada tujuh tahun ketiga didiklah dengan memperlakukan mereka seperti sahabat, setelah itu baru lepaskan mereka mandiri (Muhammad Munir Mursyi, 1989: 32)[6]
Pernyataan diatas sesuai dengan karakteristik Religiositas usia anak yang akan menjadi dasar teori saya antara lain:
1.      pengetahuan dari otoritas sekitarnya[7]
Ide keagamaan pada anak sangat dipengaruhi oleh factor dari luar mereka terutama peran orang tua. Nilai-nilai keagamaan yang diberikan orangtua terekam dan melekat pada anak.
2.      Unreflektif( Tidak mendalam)
Anak jarang melakukan perenungan terhadap konsep agama yang diterima. Pengetahuan yang masuk  dianggap sesuatu yang menyenangkan terutama yang dikemas dalam bentuk cerita.
3.      Anthropomorphic
Sifat anak yang mengaitkan sifat Tuhan dengan sifat manusia. Hal ini karena lingkungan anak yang pertama adalah manusia. Oleh karena itu dalam pengenalan sifat-sifat Tuhan kepada anak sebaiknya ditekankan perbedaan sifat Tuhan dan manusia.
4.      Verbalized and ritualistic
Perilaku keagamaan pada anak baik yang menyangkut ibadah maupun moral mula-mula tumbuh secara verbal(ucapan). Mereka menghafal secara verbal kalimat-kalimat keagamaan dan sekedar meniru dan melakukan apa yang diajarkan oleh orang dewasa tanpa keinginan untuk memahami maknanya.
5.      Imitative
Sifat dasar anak dalam kehidupan sehari-hari adalah menirukan apa yang terserap dari lingkungannya. Sebagaimana terhadap perilaku keagamaan.
6.      Wondering
Rasa takjub pada anak berbeda dengan rasa takjub pada orang dewasa yang bersifat kritis dan kreatif. Namun rasa takjub terhadap hal-hal yang baru. Termasuk pada cerita-cerita keagamaan yang bersifat fantastik seperti cerita nabi dan kemukjizatannya.[8]
           
Dinamika perbedaan rasa agama usia remaja ditandai dengan berfungsinya conscience (hati nurani), berlanjut dengan proses pengembangan dan pengayaan conscience. Sedangkan conscience sendiri memiliki padanan kata superego, innerlight dan inner policeman.(Hurlock, 1978:388)[9]
Kerja hati nurani sebagai pengarah sikap dan perilaku (inner director) dibantu oleh gejala jiwa lain yang disebut guilt (rasa bersalah) dan ashame (rasa malu).
a.       Tahap pengembangan Religious conscience tentang Agama sebagai identitas diri
b.      Karakteristik remaja antara lain


1.      Konvensional
Remaja merasa senang melakukan kegiatan keagamaan yang berhubungan dengan ritual. Hal itu karena setelah melakukan kegiatan tersebut remaja merasa tenang dan aman apalagi setelah mengetahui makna dari ritual tersebut
2.      Maknawi
Pamahaman secara maknawi dilakukan remaja dalam memahami ajaran agama yang telah diketahui.
3.      Agama versus kelompok sosial
Remaja seringkali bergabung dengan teman-teman sebayanya membentuk sebuah gank. Hal ini dikarenakan sifat remaja yang ingin sama dengan teman-temannya dan menjadi lebih unggul dengan membentuk gank.
4.      Religious doubt (ragu keagamaan)
Rasa ragu terhadap ajaran agama karena rasa agama yang terbentuk pada masa anak-anak  bersifat konkret sedangkan kognisi pada remaja sudah berkembang dan bersifat abstrak sehinggga rasa keagamaan tidak terpenuhi.

C.     Kasus dan Pembahasan
1.      Deskripsi Kasus
Saya bernama M Miftahul Ulum orang tua dan keluarga saya cukup banyak mengetahui keagamaan. Saya tinggal di desa wanusobo kedung bugel jepara. Desa lingkungan tempat tinggal saya berpenduduk seluruhnya muslim.
Ketika saya masih kanak-kanak saya sering ke pondok atas keinginan orang tua saya  melaksanakan sholat berjamaah dan ngaji setelah shalat meskipun saat itu saya hanya duduk mendengarkan dan kadang sesekali saya  mengikut-ikut gerakan kiyai saya melakukan shalat dengan sekedarnya seperti apa yang saya lihat.
Kebiasaan mengaji menjadi makanan saya setiap harinya setelah shalat tersebut membuat saya terbiasa dengan bacaan bacaan alquran. Dalam mendidik kakak saya ayah saya mengaji dengan keras. Saat itu saya beradaa di sebelah kakak saya atau bisa di bilang sering mengikutiaktifitas mengaji dengan kakak saya sehinga terdengar oleh saya yang tidak turut mengaji karena saya masih kecil. kejadian itu sering terulang sehingga saya hafal ayat-ayat pendek.
Karena sering mendengar kata-kata yang berhubungan dengan agama seperti Allah, dosa, pahala dan lain-lain saya jadi bertanya-tanya. Pada suatu hari saya bertanya  Allah itu seperti apa?  Katanya Allah itu berbeda dengan manusia, tidak laki-laki tidak pula perempuan dan Allah dapat melakukan apa saja dengan sekejap mata. Hal itu justru membuat saya membayangkan kalau Allah itu besar sekali, memiliki tangan yang panjang sehingga bisa mengambil apa saja yang ia butuhkan. Demikianlah imajinasi saya tentang Allah pada waktu saya masih kecil. Menurut bayangan saya dosa pada waktu itu seperti buah anggur yang bergerombol sangat banyak pada tubuh orang yang berdosa. Ketika saya melihat langit, saya mengira bahwa Allah berada di atas langit sehingga saya berfikir membuat tangga yang sangat panjang untuk menuju langit dan menemui Allah.
Pada usia sekitar tujuh tahun, setiap maghrib saya sudah rutin berangkat ke pondok bersama teman-teman dan kakak. Di Langgar tersebut saya sudah diajari bagaimana gerakan dan bacaan shalat yang benar. Selain itu saya diajari membaca Al Quran dengan tajwid yang benar.
Pada usia sekitar 8 tahun saya Didaftarkan masuk TPQ (Taman pendidikan Qur’an). Di TPQ ini saya banyak mendapat pengetahuan ilmu agama selain di pondok. Setelah saya lulus SMP orangtua saya mengirimkan saya untuk melanjutkan belajar di pondok pesantren.
Masa Remaja di pesantren saya alami dengan baik meski ada beberapa permasalahan. Di masa sekolah saya malah lebih suka berteman dengan orang yang bukan dengan lingkungan pondok atau bisa disebut kelompok (genk) akibatnya saya sering pulang dari pondok hanya untuk ber interaksi dengan temen atau kelompok tersebut.
Di pesantren diajarkan bagaimana cara shalat dengan khusuk, namun sampai saat ini saya merasa sulit untuk melakukan shalat secara khusuk. Selain itu shalawatan, membaca kitab dan memahami isinya juga merupakan aktivitas rutin sehari-hari.  Saya banyak belajar mandiri saat berada di pesantren. Sosialisasi kepada teman-teman baru juga saya lakukan apalagi di tempat itu tidak ada orang yang saya kenal sebelumnya.
Ilmu yang dipelajari santri di pesantren saya meliputi ilmu nahwu, ilmu sharaf, ilmu Akhlak, Tauhid, hadits dan Al Qur’an. Ketika mempelajari ilmu Tauhid, suatu ketika dalam kitab tersebut menyebutkan bahwa Allah yang menciptakan perbuatan dan Allah memasukkan siapa saja yang Allah kehendaki masuk surga karena Allah mempunyai sifat Qudrat dan Iradah. Saya berpikir kalau Allah yang menciptakan perbuatan, kenapa orang-orang yang melakukan kejahatan dimasukkan ke neraka? Dan jika Allah menghendaki orang kafir masuk surga, apakah itu adil?  Hal tersebut membuat saya bingung. Namun setelah saya tanyakan ke ustad saya akhirnya saya temukan jawabannya.

.      Analisa
Dalam deskripsi kasus telah diceritakan tentang perkembangan rasa agama sejak masa anak-anak sampai masa remaja. Perkembangan itu akan dianalisis dengan teori-teori psikologi agama tentang masa perkembangan rasa agama pada anak antara lain:
1.      “Orang tua dan keluarga saya berlatarbelakang pesantren dan Desa lingkungan tempat tinggal saya berpenduduk seluruhnya muslim” dan “Ketika saya masih kanak-kanak saya sering mengikuti orang tua saya melaksanakan sholat berjamaah dan mengaji” serta “Kebetulan saat itu saya turut mendengarkan”.
Beberapa kejadian tersebut sesuai dengan teori ideas accepted on authority yaitu pengetahuan keagamaan pada masa anak berasal dari luar dirinya.
2.      “Ketika saya masih kanak-kanak saya sering mengikuti gerakan orangtua saya melakukan shalat” dan “Kebiasaan  mengaji setelah shalat tersebut membuat saya terbiasa dengan bacaan-bacaan al quran.
Keadaan yang saya alami tersebut sesuai dengan teori  Verbalized and ritualistic yaitu menghafal secara verbal kalimat-kalimat keagamaan dan imitative yaitu sekedar meniru dan melakukan apa yang dilakukan orang tua saya.
3.      “saya membayangkan kalau Allah itu besar sekali, memiliki tangan yang panjang sehingga bisa mengambil apa saja yang ia butuhkan” dan “dosa pada waktu itu seperti buah anggur yang bergerombol sangat banyak pada tubuh orang yang berdosa” serta” saya mengira bahwa Allah berada di atas langit sehingga saya berfikir membuat tangga yang sangat panjang untuk menuju langit dan menemui Allah.”
Keadaan yang saya alami tersebut sesuai dengan karakter anak yang bersifat anthomorphic yaitu menggambarkan Tuhan seperti manusia.
4.      “Cerita tentang para nabi sering diceritakan oleh kiyai saya dan saya sangat senang mendengarkan cerita tersebut.”
diajarkan bagaimana cara shalat dengan khusuk, namun sampai saat ini saya merasa sulit untuk melakukan shalat secara khusuk anak yaitu unreflektif dan wondering. Unreflektif ditunjukkan bahwa saya merasa senang dan tidak memikirkan makna dari cerita tersebut. Sedangkan wondering ditunjukkan dengan perasaan yang senang terhadap hal yang baru seperti cerita nabi tersebut.
Sedangkan Analisis perkembangan rasa agama usia remaja antara lain:
5.      “Di sekolah kami membentuk kelompok yang kurang baik.”
Cerita tersebut menunjukkan bahwa kejadian yang saya sesuai dengan teori karakter religiousitas usia remaja yaitu agama versus kelompok sosial. Remaja dalam sosialnya cenderung membentuk kelompok sosial seperti gank yang saya bentuk.
6.      “Saya diajarkan bagaimana cara shalat dengan khusuk, namun sampai saat ini saya merasa sulit untuk melakukan shalat secara khusuk.”
Keadaan yang saya alami tersebut sesuai dengan teori  bahwa remaja memiliki karakteristik maknawi yaitu melakukan ritual dengan memahami makna atau isi dari perbuatan tersebut.
7.      “Saya berpikir kalau Allah yang menciptakan perbuatan, kenapa orang-orang yang melakukan kejahatan dimasukkan ke neraka? Dan jika Allah menghendaki orang kafir masuk surga, apakah itu adil? “
Kejadian ini sesuai dengan karakteristik remaja yaitu religious doubt. Dimana remaja merasa ragu dengan ajaran agama yang diterimanya.


D.    Kesimpulan
Dari analisis diatas dapat disimpulkan bahwa saya mengalami perkembangan rasa agama mulai dari usia anak sampai remaja secara kontinu, berkesinambungan dan konsisten. Karakter rasa agama ideas accepted on authority atau peran orang tua sangat berpengaruh terhadap kepemilikan rasa agama anak. Selain itu, Unreflektif (Tidak mendalam), anthomorphic, imitative, dan wondering juga memberikan pengaruh terhadap cara yang seharusnya dilakukan untuk membentuk rasa agama anak karena hal ini juga memberikan pengaruh yang besar terhadap perkembangan rasa agama pada usia anak.
Perkembangan religiousitas remaja dipengaruhi oleh karakter rasa agama remaja yaitu konvensional, maknawi, reflektif, agama versus  kelompok sosial dan religious doubt. Pada masa pengembangan religious remaja maka timbul kesadaran diri agama sebagai identitas diri.
E.     Daftar Pustaka
Jalaluddin, Psikologi Agama., Jakarta: PT Grafindo Persada, 1997
Susilaningsih, makalah Perkembangan Religiositas pada Usia Anak, Yogyakarta,1994.
Susilaningsih, Dinamika Rasa Agama Keagamaan pada Usia Remaja
Susilaningsih, Handout Rasa Agama




[1] Jalaluddin, Psikologi Agama., Jakarta: PT Grafindo Persada, 1997. hlm.17
[2] Susilaningsih, makalah Perkembangan Religiositas pada Usia Anak, Yogyakarta,1994.hlm.1
[3] Ibid, susilaningsih…hlm 1

[4] Susilaningsih, Dinamika Rasa Agama Keagamaan pada Usia Remaja. Hlm. 1
[5] Susilaningsih, Handout Rasa Agama
[6] Jalaluddin, Psikologi Agama., Jakarta: PT Grafindo Persada, 1997. hlm. 21
[7] Ibid..hlm.68
[8]  Karakter usia anak pada: Jalaluddin, Psikologi Agama., Jakarta: PT Grafindo Persada, 1997. hlm. 68-   71
[9]  Susilaningsih, Dinamika Rasa Agama Keagamaan pada Usia Remaja. Hlm.2

2 comments:

  1. numpang promote ya min ^^
    buat kamu yang lagi bosan dan ingin mengisi waktu luang dengan menambah penghasilan yuk gabung di di situs kami www.fanspoker.com
    kesempatan menang lebih besar yakin ngak nyesel deh ^^,di tunggu ya.
    || WA : +855964283802 || LINE : +855964283802 ||

    ReplyDelete