Halaman

Tuesday, March 19, 2019

Perilaku Organisasi; KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM


KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM

Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mid semester : Perilaku Organisasi
Dosen Pengampu : Wahibur Rokhman, Ph.D



 




Disusun Oleh :
Zaimatul ummah         212447
 


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
JURUSAN SYARIAH / MBS
2015



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Manusia adalah makhluk social yang tidak dapat hidup sendiri. Dalam hidup, manusia selalau berinteraksi dengan sesama serta dengan lingkungan. Manusia hidup berkelompok baik dalam kelompok besar maupun dalam kelompok kecil.
Hidup dalam kelompok tidak mudah. Untuk menciptakan kondisi kehidupan yang harmonis anggota kelompok haruslah saling menghormati & menghargai. Keteraturan hidup perlu selalu dijaga. Hidup yang teratur adalah impian setiap insan.
Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling tinggi dibanding makhluk Tuhan lainnya. Manusia di anugerahi kemampuan untuk berpikir, kemampuan untuk memilah & memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Dengan kelebihan itulah manusia seharusnya mampu mengelola lingkungan dengan baik.
Jika manusia berjiwa pemimpin, maka akan dapat mengelola diri, kelompok & lingkungan dengan baik. Khususnya dalam penanggulangan masalah yang relatif pelik & sulit. Disinilah dituntut kearifan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan agar masalah dapat terselesaikan dengan baik.
B.     Rumusan masalah
1.      Apa pengertian kepemimpinan ?
2.      Apa dasar-dasar kepemimpinan dalam Islam?
3.      Bagaimana Pemimpin Ideal dalam Perspektif Islam ?





BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian kepemimpinan
Stephen Robbins mendefinisikan kepemimpinan sebagai “the ability to influence a group toward the achievement of goals.” Kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok guna mencapai serangkaian tujuan. Kata (kemampuan), (pengaruh) dan (kelompok) adalah konsep kunci dari definisi Robbins.[1]
Kepemimpinan juga bisa di artikan Kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk pencapaian tujuan. Bentuk pengaruh tersebut dapat secara formal seperti manajerial pada suatu organisasi.
‘Nonsanctioned Leadership’ merupakan kemampuan untuk member pengaruh di luar struktur formal organisasi yang kepentingannya sama atau bahkan melebihi pengaruh struktur formal. Dengan kata lain, seorang pemimpin dapat saja muncul dalam suatu kelompok walaupun tidak diangkat secara formal.
Arti kepemimpinan islam atauImamah  adalah konsep yang tercantum dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, yang meliputi kehidupan manusia dari pribadi, berdua, keluarga bahkan sampai umat manusia atau kelompok. Konsep ini mencakup baik cara-cara memimpin maupun dipimpin demi terlaksananya ajaran Islam untuk menjamin kehidupan yang lebih baik di dunia dan akhirat sebagai tujuannya.
Kepemimpinan Islam, sudah merupakan fitrah bagian setiap manusia yang sekaligus memotivasi kepemimpinan yang Islami. Manusia di amanahi Allah untuk menjadi khalifah Allah (wakil Allah) di muka bumi :
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. (Q.S.al-Baqarah:30)
Kholifah bertugas merealisasikan misi sucinya sebagai pembawa rahmat bagi alam semesta. Sekaligus sebagai abdullah [hamba Allah] yang senantiasa patuh dan terpanggil untuk mengabdikan segenap dedikasinya di jalan Allah. Sabda Rasulullah :
“Setiap kamu adalah pemimpim dan tiap-tiap pemimpin dimintai pertanggungjawabannya (responsibelitiy-nya). Manusia yang diberi amanah dapat memelihara amanah tersebut dan Allah telah melengkapi manusia dengan kemampuan konsepsional atau potensi fitrah. Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!" (Q.S.al-Baqarah:31), serta kehendak bebas untuk menggunakan dan memaksimal potensi yang dimilikinya.
Konsep amanah yang diberikan kepada manusia sebagai khalifal fil ardli menempati posisi senteral dalam kepemimpinan Islam. Logislah bila konsep amanah kekhalifahan yang diberikan kepada manusia menuntut terjalinannya hubungan atau interaksi yang sebaik-baiknya antara manusia dengan pemberi amanah Allah, yaitu:
1.      Mengerjakan semua perintah Allah,
2.      Menjauhi semua larangan-Nya,
3.      Ridha (ikhlas) menerima semua hukum-hukum atau ketentuan-Nya.
Selain hubungan dengan pemberi amanah Allah, juga membangun hubungan baik dengan sesama manusia serta lingkungan yang diamanahkan kepadanya (Q.S.Ali Imran:112). Tuntutannya, diperlukan kemampuan memimpin atau mengatur hubungan vertical manusia dengan Sang Pemberi (Allah) amanah dan interaksi horizontal dengan sesamanya.[2]
Jika kita memperhatikan teori-teori tentang fungsi dan peran seorang pemimpin yang digagas dan dilontarkan oleh pemikir-pemikir dari dunia Barat, maka kita akan hanya menemukan bahwa aspek kepemimpinan itu sebagai sebuah konsep interaksi, relasi, proses otoritas maupun kegiatan mempengaruhi, mengarahkan dan mengkoordinasi secara horizontal semata.
Konsep Islam kepemimpinan sebagai sebuah konsep interaksi, relasi, proses otoritas, kegiatan mempengaruhi, mengarahkan dan mengkoordinasi baik secara horizontal maupun vertikal. Kemudian, dalam teori-teori manajemen, fungsi pemimpin sebagai perencana dan pengambil keputusan (planning and decision maker), pengorganisasian (organization), kepemimpinan dan motivasi (leading and motivation), pengawasan (controlling) dan lain-lain.
Uraian di atas, dapat ditegaskan bahwa, kepemimpinan Islam adalah suatu proses atau kemampuan orang lain untuk mengarahkan dan memotivasi tingkah laku orang lain, serta ada usaha kerja sama sesuai dengan al-Qur’an dan Hadis untuk mencapai tujuan yang diinginkan bersama.[3]
B.     Dasar-dasar kepemimpinan dalam Islam
Dasar Al-qur’an :
a.       Q.S. Al-Baqoroh :30
واذ قال ربك           
فىالارض خلفه قالوااتجعل فىها وىسفك الدماء ونحن نسبح بحمدك ونقدس لك قال انى اعلم مالا تعلمون  جاعل انىللملئكة  

Artinya : Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

b.      Q.S. Al-An’am : 165

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلائِفَ الأرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَبْلُوَكُمْ في ما اتاكم ان ربك سريع العقاب وانه لغفوررحيم
artinya :
Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu Amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.[4]
Hadist Rosuluallah SAW :

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ سَمُرَةَ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ لَا تَسْأَلْ الْإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إِنْ أُوتِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا وَإِنْ أُوتِيتَهَا مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا وَإِذَا حَلَفْتَ عَلَى يَمِينٍ فَرَأَيْتَ غَيْرَهَا خَيْرًا مِنْهَا فَكَفِّرْ عَنْ يَمِينِكَ وَأْتِ الَّذِي هُوَ خَيْرٌ
Artinya :
Dari Abdurrahman ibn Smurah ra. Ia berkata : Rasulullah bersabda :”Wahai Abdurrahman Ibn sammurah, janganlah kamu meminta jabatan. Apabila kamu diberi dan tidak memintanya, kamu akan mendapat pertolongan Allah dalam melaksanakannya. Dan jika kau diberi jabatan karena memintanya, jabatan itu diserahkan sepenuhnya. Apabila kamu bersumpah terhadap satu perbuatan, kemudian kamu melihat ada perbuatan yang lebih baik, maka kerjakanlah perbuatan yang lebih baik itu.”(Al-Utaibiy:281).

عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا وَرَجُلَانِ مِنْ بَنِي عَمِّي فَقَالَ أَحَدُ الرَّجُلَيْنِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمِّرْنَا عَلَى بَعْضِ مَا وَلَّاكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَقَالَ الْآخَرُ مِثْلَ ذَلِكَ فَقَالَ إِنَّا وَاللَّهِ لَا نُوَلِّي عَلَى هَذَا الْعَمَلِ أَحَدًا سَأَلَهُ وَلَا أَحَدًا حَرَصَ عَلَيْهِ
Artinya:
Dari Abu Musa al-Asy’ari ra., ia berkata: bersama dua orang saudara sepupu, saya mendatangi Nabi Saw. kemudian salah satu diantara keduanya berkata: Wahai Rasulullah, berilah kami jabatan pada sebagian dari yang telah Allah kuasakan terhadapmu. Dan yang lain juga berkata begitu. Lalu beliau bersabda: Demi Allah, aku tidak akan mengangkat pejabat karena memintanya, atau berambisi dengan jabatan itu. ”(Al-Utaibiy:275).[5]
C.    Kepemimpinan dalam Perspektif Islam
Islam adalah agama yang kaafah (sempurna), yang diturunkan Allah melalui perantara Rosul-Nya yang amanah dengan membawa syari’at yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, baik yang berhubungan dengan Allah Swt (Hablum minallah) maupun hubungan dengan manusia (Hablumminannas), termasuk di antaranya yang paling prinsip adalah masalah kepemimpinan.
Islam sendiri, banyak memberi gambaran tentang sosok pemimpin yang benar-benar layak memimpin umat menuju kemaslahatan, baik dari Al-Qur’an, Hadist, maupun keteladanan Rosul dan para sahabat. sebagai sosok pemimpin ideal bagi umat Islam, Rosulullah saw. memiliki beberapa kriteria yang dapat ditentukan dalam hal memilih orang pemimpin antara lain:
1.      Shidiq (Jujur)
Kejujuran adalah lawan dari dusta dan ia memiliki arti kecocokan sesuatu sebagaimana dengan fakta. Nabi Muhammad saw. sebagai utusan terpercaya Allah jelas tidak dapat lagi diragukan kejujurannya, kerena apa yang beliau sampaikan adalah petunjuk (wahyu) Allah yang bertitik pada kebenaran yaitu ridlo Allah. Sebagaimana difirmankan dalam QS. An-Najm:3-4.
Artinya:
“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”(QS. An-Najm:3-4).
2.      Amanah/Terpercaya
Sebelum diangkat menjadi rasul, nabi Muhammad SAW bahkan telah diberi gelar Al-Amien yangartinya orang yang dapat dipercaya. Hal ini tentunya karena beliau adalah pribadi yang benar- banar dapat dipercaya dikalangan kaumnya. Sperti yang telah dijelaskan oleh Eaton (2006:175). Pada tahun 605 dewan pemerintah Quraisy memutuskan untuk merenovasi ka’bah, pada saat pemindahan hajar aswad terjadi sengketa antara bbeberapa klan (bani), ketidak sepakatan ini muncul karena masing-masing mereka berebut untuk memperoleh kehormatan memindahkan hajar aswad pada tempatnya. Diputuskan bahwa orang pertama yang masuk lapangan (segi empat ka’bah) lewat satu pintu tertentu hendaknya diminta bertindak sebagai juru damai, dan orang pertama yang adalah Muhammad. Ia mengatakan kepada penduduk untuk menghamparkan sebuah jubah besar, menempatkan batu itu diatasnya dan memanggil wakil tiap klan untuk bersama-sama mengangkatnya dalam posisi, kemudian ia sendiri meletakkan batu itu ketempatnya.
Allah mengisyaratkan dengan tegas untuk mengangkat “pelayan rakyat” yang kuat & dapat dipercaya dalam surat Al-Qoshos ayat 26.  

Artinya :
Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya".( Q.S.Al-Qoshos:26).
Amanah merupakan kualitas yang harus dimiliki seorang pemimpin. Dengan memiliki sifat amanah, pemimpin akan senantiasa menjaga kepercayaan masyarakat yang telah dibebankan sebagai amanah mulia di atas pundaknya. Kepercayaan maskarakat berupa penyerahan segala macam urusan kepada pemimpin agar dikelola dengan baik dan untuk kemaslahatan bersama.
3.      Tablig (Komunikatif)
Kemampuan berkomunikasi merupakan potensi dan kualitas prinsip yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Karena dalam kinerjanya mengemban amanat memaslahatkan umat, seorang pemimpin akan berhadapan dengan kecenderungan masayarakat yang berbeda-beda. Oleh karena itu komunikasi yang sehat merupakan kunci terjalinnya hubungan yang baik antara pemimpin dan rakyat.Allah berfirman:
Artinya :
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan Sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.
Salah satu ciri kekuatan komunikasi seorang pemimpin adalah keberaniannya menyatakan kebenaran meskipun konsekuensinya berat. Dalam istilah Arab dikenal ungkapan, “kul al-haq walau kaana murran”, katakanlah atau sampaikanlah kebenaran meskipun pahit rasanya.
4.      Fathonah (cerdas)
Cerdas sendiri dapat diartikan sebagai “kemampuan individu untuk memahami, berinovasi, memberikan bimbingan yang terarah untuk perilaku, dan kemampuan mawas diri. Ia merupakan kemampuan individu untuk memahami masalah, mencari solusinya, mengukur solusi atau mengkritiknya, atau memodifikasinya”.(Al-Hajjaj,2009:20).
Kecerdasan seorang pemimpin akan sangat mempengaruhi eksistensi kepemimpinannya baik di mata manusia maupun dimata sang pencipta.[6] Hal ini sebagaimana janji Allah yang tertuang dalam surat Al-Mujadalah ayat 11.
                Artinya :
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(Q.S. Al-Mujadalah:11).
Selain aspek-aspek diatas, masih banyak kiteria yang layaknya dimiliki oleh pemimpin ideal seperti :
a.       Demokratis
Dalam hal ini pemimpin tidak sembarang memutuskan sebelum adanya musyawarah yang mufakat. Sebab dengan keterlibatan rakyat terhadap pemimpinnya dari sebuah kesepakatan bersama akan memberikan kepuasan, sehingga apapun yang akan terjadi baik buruknya bisa ditanggung bersama-sama.
Pola kepemimpinan yang demokratis dapat diteladani dari pribadi Abu Bakar As-Shidiq. Hal ini dapat dilirik dari kutipan Khutbahnya ketika terpilih sebagai kholifah pertama.
"Saudara-saudara, Aku telah diangkat menjadi pemimpin bukanlah karena aku yang terbaik diantara kalian semuanya, untuk itu jika aku berbuat baik bantulah aku, dan jika aku berbuat salah luruskanlah aku. Sifat jujur itu adalah amanah, sedangkan kebohongan itu adalah pengkhianatan. 'Orang lemah' diantara kalian aku pandang kuat posisinya di sisiku dan aku akan melindungi hak-haknya. 'Orang kuat' diantara kalian aku pandang lemah posisinya di sisiku dan aku akan mengambil hak-hak mereka yang mereka peroleh dengan jalan yang jahat untuk aku kembalikan kepada yang berhak menerimanya. Janganlah diantara kalian meninggalkan jihad, sebab kaum yang meninggalkan jihad akan ditimpakan kehinaan oleh Allah Swt. Patuhlah kalian kepadaku selama aku mematuhi Allah dan Rasul-Nya. Jika aku durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya maka tidak ada kewajiban bagi kalian untuk mematuhiku. Kini marilah kita menunaikan Sholat semoga Allah Swt melimpahkan Rahmat-Nya kepada kita semua". (AsySyarqowi,2010:98).
b.      Keteladanan (qudwah)
Aspek keteladanan erat hubungannya dengan budi pekerti (akhlak), dan hal inilah yang diperankan tokoh pemimpin muslim ideal terdahulu.
Seperti wasiat nabi kepada Ali yang dikutip dari buku Abdurrahman Asy Sarqowi (2002:10) “ Wahai Ali, maukah aku tunjukkan kepadamu akhlak terbaik orang-orang terdahulu orang-orang (yang akan datang) kemudian? Ali menjawab, ya, Rosulullah. Rosulullah saw. kembali bersabda (engkau memberi orang yang kikir kepadamu, memaafkan orang yang mendzalimimu, dan menyambungkan tali silaturrahmi kepada orang yang telah memutuskannya”).[7]
Allah berfirman dalam surat Al-Qolam ayat 4
Artinya :
Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.(Q.S. Al-Qolam:4).
c.       Kepeloporan
Seorang sebagai qudwah (panutan) bagi rakyatnya harus memempatkan dirinya pada garda terdepan (pioneer), yang berarti kinerjanya tidak hanya bermodal intelektual, retorika yang menjanjikan atau hanya konsep belaka, tapi juga harus dibuktikan dalam tindakan nyata. Dalam hal ini Allah swt. Menegaskan dalam surat Az-Zumar ayat 20.
Artinya :
“Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri".(Q.S. Az-Zumar:20).
Para tokoh pemimpin muslim ideal terdahulu selalu menunjukkan kepeloporannya dalam  memimpin rakyatnya. Sebut saja K.H. Abdurrahman Wahid (gus dur) tokoh nasionalis yang gigih memperjuangkan pluralism di Indonesia. Gusdur berada di barisan garda depan untuk memperkuat pluralism di republic ini. Istimewanya, pluralism yang dikembangkan gus dur tidak hanya pada tataran pemikiran. Melainkan menjadi sebuah tindakan social-politik.(Misrawi,2002:X).[8]
d.      Menguasai pengetahuan Agama (religious).
 Seorang pemimpin hendaklah menguasai pengetahuan tentang agama Allah, karena mereka hanya mengembalikan segala urusan kepada Allah dan Rosul-Nya tidak semata-mata atas dasar keinginan dirinya sendiri.
e.       Menguasai managemen (manajerial)
Seorang pemimpin harus memiliki kemampuan mengelola dan mengorganisasikan system secara teratur, agar terbangun system pemerintahan yang kokoh.





BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Islam adalah agama yang kaafah (sempurna), yang diturunkan Allah melalui perantara Rosul-Nya yang amanah dengan membawa syari’at yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, baik yang berhubungan dengan Allah Swt (Hablum minallah) maupun hubungan dengan manusia (Hablumminannas), termasuk di antaranya yang paling prinsip adalah masalah kepemimpinan.
Sebagai pemimpin teladan yang menjadi model ideal pemimpin, Rasulullah dikaruniai empat sifat utama, yaitu: Sidiq, Amanah, Tablig dan Fathonah. Sidiq berarti jujur dalam perkataan dan perbuatan, amanah berarti dapat dipercaya dalam menjaga tanggung jawab, Tablig berarti menyampaikan segala macam kebaikan kepada rakyatnya dan fathonah berarti cerdas dalam mengelola masyarakat.
Selain aspek-aspek diatas, masih banyak kiteria yang layaknya dimiliki oleh pemimpin ideal seperti :
a. Demokratis
b. Keteladanan (qudwah)
c. kepeloporan (pioneer)
d. menguasai pengetahuan agama (religious)              
e. menguasai manajemen (manajerial)

DAFTAR PUSTAKA

Robbins ,P. Stephen. 2002. Perilaku Organisasi . Jakarta: Erlangga.
Salim, A.M. 2002. konsepsi kekuasaan politik dalam Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Aunur Rohim Fakih, dk., 2001, Kepemimpinan Islam, UII Press, Yogyakarta.
Departemen agama, al-quran dan terjemah, Jakarta: sigma, 2010
Al-Utaibiy,A.S. Mutiara pilihan Riyadhus sholikhin. Solo: At-Tibyan.
Asyarqowi, Abdurrahman. 2010. Abu Bakar Ash Shidiq : Bandung: Syigma Publishing.
Misrawi, Zuhaurini. Gus Dur Par Excellence. Jakarta : Kompas.


[1]Robbins ,P. Stephen. 2002. Perilaku Organisasi . Jakarta: Erlangga.hlmn 87.
               
[2]Salim, A.M. 2002. konsepsi kekuasaan politik dalam Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

[3]Aunur Rohim Fakih, dk., 2001, Kepemimpinan Islam, UII Press, Yogyakarta.hlmn 9.


[4] Departemen agama, al-quran dan terjemah, Jakarta: sigma, 2010
[5]Al-Utaibiy,A.S. Mutiara pilihan Riyadhus sholikhin. Solo: At-Tibyan.

[6]Asyarqowi, Abdurrahman. 2010. Abu Bakar Ash Shidiq : Bandung: Syigma Publishing.hlmn 20

[7] Ibid hlmn 10
[8]Misrawi, Zuhaurini. Gus Dur Par Excellence. Jakarta : Kompas.hlmn 10

No comments:

Post a Comment